Menuntun sepeda

"Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa menggantikan kegigihan . Bakatpun tidak ;tidak ada yang lebih umum dibandingkan orang berbakat yang gagal. Orang-orang jeniuspun tidak; orang-orang jenius yang tidak memperoleh penghargaan hampir merupakan pepatah. Hanya kegigihan dan keteguhan yang membuat orang berhasil " (Calvin Colidge)

Kurang lebih 4 tahun aku pergi ke sekolah dengan naik sepeda pancal (just sepeda bukan motor). 3 tahun SMP dan 1 setengah di SMK dengan jarak yang bisa dibilang lumayan kurang lebih 10 km.orang bilang ini kegigihan, tapi tidak bagiku ini adalah buah dari satu tujuan yang pasti. Tanpa tujuan yang pasti tak akan tercipta kegigihan (sok tahu ya gue he he he).Pertengahan kelas 2 angin segar sedikit menerpa hidupku “aku mendapat izin make’ motor bapak aku”. Bukan motor yang keren Cuma”Honda Astrea” tapi lumayan sedikit meregangkan otot betisku. Setiap kebahagiaan pasti ada konsekwensinya. Begitu juga aku, aku harus lebih mengirit uang jajan buat beli bensin. Awalnya masih bias kuatasi. Aku hanya memerlukan dua hari uang jajanku untuk bensiin selama seminggu
Tapi itu tidak berjalan lama, mungkin 4 bulan sejak aku beralih ke motor. Bensin seakan -akan menyuruhku kembali mancal………………….bensin naik menjadi 6000.
Beberapa perhitungan kulakukan, akhirnya aku menemukan. Aku membutuhkan 4 hari uang sakuku untuk beli bensin selama seminggu. Bukann hal yang mudah bagiku untuk mengatur keuanganku apalagi dana untuk membeli buku sudah di serahkan ke aku sendiri.
“keren tak sekedar ngikutin trend”
Itulah kata seorang temanku. Entah itu prinsipnya atau hanya kata-kata yang asal ia ucapkan. Kejadian ini berawal saat akhir sekolah aku dan temanku itu kebetulan memarkir sepeda di tempat yang sama. Waktu aku stater motorku tiba-tiba ia berkata “di tuntun ae luwe hemat”(dituntun saja lebih hemat). Memang di sekolah ku ada peraturan saat melewati gerbang sekolah, motor dan sepeda harus turun dan menuntun sepeda atau motornya setelah melewati gerbang baru boleh dinaiki lagi menuju parkiran. Karena kupikir ide nya tidak buruk kenapa tidak dil;akukan. Satu dua hari berikutnya aku dan teman ku itu selalu menuntun sepeda mulai dari gerbang menuju tempat parkiran dan sebaliknya dari parkiran ke gerbang. Awalnya sih tak masalah tapi hari-hari berikutnya mulai ada ejekan dari temen yang melihat”mogok mas?”,”bannya bocor ya..?”,” lo kenapa sepedanya ?”,bahkan ada “jadi orang jangan pelit-pelit amat”.
Tapi bias dibilang tak kami hiraukan kami hanya bilang ini langkah penghematan. Emang benar kata teman ku”keren tak sekedar ngikuti trend”, hari-hari berikutnya mulai ada pengikkut penuntuin sepeda bahkan yang dulu mengejek juga ikit-ikutan. Mungkin mereka sudah merasakan penghemertan dari menuntun sepeda.
Akupun sama sudah aku arasakan efeknya sejak melakukan menuntun sepeda aku lebih hemat satu hari untuk mengisi bbm apalagi sejak aku menambahkan satu lagi penghematan yaitu matikan mesin sebelum tujuan. Maksudnya ? . begini loh tahu hokum Newton yang berbunyi
“benda diam cenderunng terus diam dan benda bergerak cendderung terus bergerak”.
Jadi begini, saat hampir sapai tujuan mesin kita matikan . tapi motor masih bias jalan karena masih punya gaya dorong. Untuk melakkukan itu tent7unya kita tak sem[pat memposisikan perseneleng /tranmisi ke posisi netral. Padahal jika belum netral dan roda terus berputar meski mesin mati tetap terjadi penghisapan bahan bakar. Artinya tak jauh beda dengan saat motor menyala jadi percuma dong?!. Ya tidak , begini triknya : jika kamu pake motor motor cowok(motor kopling manual :mega pro ,ninja, dll)kamu tinggal tarik tuas kopling itu udah jadi netral persenelengnya.
Tapi gimana dengan sepeda motor biasa (kopling otomatis:seperti punyaku,supra dll)gampang sih kamu tinggal tekan pedal perseneleng (seperti saat ganmti perseneleng ke gigi yang lebih tinggi) tapi jangan b ndilepas alias ditekan terus(di tahan ). Nah! Saat itulah perseneleng posisi netral jadi kamu bias off kan kunci kontak.



0 komentar: